Senin , Januari 22 2018
Home / Health / Begini cara Pemkab Sidrap perangi DBD
Salah satu penyebab penyakit demam berdarah adalah gigitan nyamuk Aedes Aegypti/ foto: int
Salah satu penyebab penyakit demam berdarah adalah gigitan nyamuk Aedes Aegypti/ foto: int

Begini cara Pemkab Sidrap perangi DBD

SIDRAP – Inovasi di bidang kesehatan dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidrap. Itu untuk menekan perkembangan kasus Demam Berdarah (DBD), diterapkan menggunakan teknologi perangkat jentik (larva trap).

Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Sidrap, dr Andi Irwansyah, di ruang kerjanya, Senin kemarin mengungkapkan, inovasi terbaru yang diterapkan dibuat dalam rangka memutus mata rantai penularan DBD, melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus, sehingga tidak lagi menjadi masalah.

Menurutnya, teknologi larva trap mudah dibuat dengan manfaat yang lebih besar. Teknologi tepat guna itu, lanjut Irwansyah, untuk mencegah tersebarnya virus DBD. Sebab, virus DBD tidak hanya tersebar melalui orang yang sudah terjangkit, namun juga karena nyamuk yang menyebarkan virusnya.

“Teknologi larva trap berfungsi untuk menjebak jentik-jentik nyamuk agar tidak tumbuh dan berkembang. Jauh lebih optimal ketimbang membunuh nyamuk dewasa dengan fogging. Bahannya terbuat dari botol minuman bekas,” ucapnya.

Irwansyah menjelaskan, permasalahan yang terjadi di Sidrap adalah masih tingginya angka penderita DBD, dan cakupan angka bebas jentik (ABJ) jumlahnya 60 persen. Itu  masih jauh dari target sebesar 95 persen.

Menurutnya, pengendalian sudah dilakukan baik secara biologi maupun kimia. Tetapi penyakit DBD masih tetap ada. Untuk itu kata dia, solusi tepat yang harus dilakukan adalah melakukan perubahan dalam pengendalian penyakit, terutama jentik nyamuk dengan perangkat larva trap.

Irwansyah mengaku, penyakit DBD di Sidrap pada 2013 sebanyak 173 penderita, 2014 sebanyak 56 orang yang berarti mengalami penurunan sebanyak 116 orang (32,55%). Sedangkan pada 2015 terdapat penderita 82 orang.

“Penderita di 2016 ini mulai Januari hingga Agustus sekitar 137 penderita, dan meninggal 1 orang. Makanya, kami berharap setelah disosialisasikan larva trap ini, angka kasus DBD bisa ditekan. Jadi, warga diminta agar bisa memperbanyak sendiri alat ini, untuk dipasang di rumah masing-masing,” harapnya. (B)

Acca Ajatappareng

Check Also

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis beberapa daerah di Sulsel yang masuk dalam kategori rawan bencana longsor, Rabu 28 September 2016 / Arul ramadhan

Bupati himbau masyarakat waspada, Jeneponto bakal dilanda “banjir”

JENEPONTO – Bupati Jeneponto Iksan Iskandar menghimbau kepada seluruh warga Jeneponto tetap waspada, khususnya yang …