Senin , Januari 22 2018
Home / Headline / Duh, Greenpeace menilai Indonesia belum maksimal atasi kabut asap
Kabut asap yang berasal dari pembakaran lahan dan hutan di Indonesia diprediksi telah menyebabkan 100 ribu kematian prematur tahun lalu. / AFP
Kabut asap yang berasal dari pembakaran lahan dan hutan di Indonesia diprediksi telah menyebabkan 100 ribu kematian prematur tahun lalu. / AFP

Duh, Greenpeace menilai Indonesia belum maksimal atasi kabut asap

MAKASSARTERKINI.COM – Musibah kabut asap yang berasal dari pembakaran lahan dan hutan di Indonesia, diprediksi telah menyebabkan 100 ribu kematian prematur tahun lalu.

Seperti dilansir BBC News, data tersebut dikeluarkan para ahli di Universitas Harvard dan Columbia di Amerika Serikat (AS), yang menyebutkan lebih 90 persen kematian tersebut berada di Indonesia, sisanya terdapat di Malaysia dan Singapura.

Kajian yang akan diterbitkan di jurnal Environmental Research Letters tersebut menggunakan data satelit dan model komputer terkait efek kesehatan untuk menentukan probabilitas statistik kematian dini.

Dari sini diperoleh angka kematian 26.300 hingga 174.300 dengan angka rata-rata 100.300. Kajian itu hanya melihat kematian di kalangan dewasa, walaupun pada 2015 muncul laporan-laporan tentang kematian balita akibat kabut asap yang berlangsung selama beberapa bulan.

Otoritas pejabat di Indonesia mengatakan angka korban secara resmi akibat kabut asap hanya 19 orang, termasuk beberapa petugas pemadam kebakaran. Akan tetapi, BNPB melansir ada 43 juta orang terkena dampak kabut asap dan 500 ribu orang mengalami infeksi pernapasan “serius”.

Kalangan akademisi dan pegiat lingkungan mengatakan ada beberapa pertanyaan yang bisa diajukan atas kajian Universitas Harvard dan Columbia, namun demikian kajian tersebut tetap harus “didalami lebih serius”.

Pegiat organisasi lingkungan Greenpeace Indonesia, Yuyun Indradi kepada kantor berita AFP mengatakan, jika tidak ada perubahan maupun tindakan serius dari pemerintah Indonesia, maka kabut asap akan terus saja menyebabkan dampak buruk dari tahun ke tahun.

Selanjutnya, Yuyun menganggap pemerintah Indonesia tidak maksimal menangani masalah terkait kabut asap, kendati ia menyebutkan sudah ada intensitas dari pemerintah untuk meningkatkan upaya mengatasi kebakaran lahan dan hutan.

Sementara itu, data pusat meteorologi Asean menunjukkan, setelah sempat naik pada awal September 2016, jumlah titik api yang terpantau melalui satelit turun menjadi di bawah 20, jauh lebih sedikit dibandingkan tahun lalu.

Check Also

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis beberapa daerah di Sulsel yang masuk dalam kategori rawan bencana longsor, Rabu 28 September 2016 / Arul ramadhan

Bupati himbau masyarakat waspada, Jeneponto bakal dilanda “banjir”

JENEPONTO – Bupati Jeneponto Iksan Iskandar menghimbau kepada seluruh warga Jeneponto tetap waspada, khususnya yang …