Selasa , Januari 23 2018
Home / Ekonomi / Harga cabai rawit naik 50 persen di Pasar Sentral Karisa Jeneponto
Harga cabai rawit dari semula Rp 8 ribu per kilogram naik menjadi Rp 18 ribu per kilogram di Pasar Sentral Karisa Jeneponto. Hal itu diungkapkan Dg Ngada (40) penjual cabai di Pasar Karisa kepada MAKASSARTERKINI.COM, Selasa 18 Oktober 2016. / Syarif
Harga cabai rawit dari semula Rp 8 ribu per kilogram naik menjadi Rp 18 ribu per kilogram di Pasar Sentral Karisa Jeneponto. Hal itu diungkapkan Dg Ngada (40) penjual cabai di Pasar Karisa kepada MAKASSARTERKINI.COM, Selasa 18 Oktober 2016. / Syarif

Harga cabai rawit naik 50 persen di Pasar Sentral Karisa Jeneponto

JENEPONTO – Curah hujan yang tinggi dalam beberapa minggu terakhir membuat pasokan sejumlah jenis cabai berkurang. Akibatnya, harga beberapa jenis cabai di sejumlah pasar tradisional mengalami kenaikan.

Dari pantauan, harga cabai rawit dari semula Rp 8 ribu per kilogram naik menjadi Rp 18 ribu per kilogram di Pasar Sentral Karisa Jeneponto. Hal itu diungkapkan Dg Ngada (40) penjual cabai di Pasar Karisa kepada MAKASSARTERKINI.COM, Selasa 18 Oktober 2016.

Sementara, untuk tomat dari semula Rp 5 ribu per kilogram naik menjadi Rp 8 ribu. “Bulan lalu Rp 5 ribu, sekarang Alhamdulillah sudah naik Rp 8 ribu,” tambahnya.

Menurut Dg Ngada, kenaikan harga tersebut disebabkan kurangnya pasokan cabai dan tomat ke Pasar Karisa, sementara permintaan masyarakat tinggi,” ujarnya.

Lain halnya bawang merah, seperti disebut Dg Bulaeng (33), juga salah seorang pedagang di Pasar Karisa Jeneponto. Menurutnya, kedua komoditi ini sangat turun drastis.

Dicontohkan, di Agustus-September, harga bawang merah Rp 50 ribu per kilogram, anjlok hingga Rp 30 ribu per kilogram. Sementara, bawang putih harganya tetap Rp 35 ribu per kilogram.

“Kalau bawang turun sekali harganya, bulan delapan hingga sembilan lalu Rp 50 ribu, sekarang Rp 30 ribu. Kalau bawang putih tetap Rp 35 ribu,” paparnya.

Adapun harga lada, sebutnya, anjlok dari Rp 200 per kilogram menjadi Rp 150 per kilogram. “Biasanya, Rp 200 ribu per kilogram, ini turun Rp 150 ribu,” kata Dg Bulaeng.

Menurutnya, penyebab anjloknya harga lada tersebut disebabkan kurangnya kebutuhan dan permintaan dari masyarakat, sementra pemasoknya banyak,

“Kurang masyarakat yang beli, semantera pemasok tinggi,” tutup Dg Bulaeng. (A)

Syarif

Check Also

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis beberapa daerah di Sulsel yang masuk dalam kategori rawan bencana longsor, Rabu 28 September 2016 / Arul ramadhan

Bupati himbau masyarakat waspada, Jeneponto bakal dilanda “banjir”

JENEPONTO – Bupati Jeneponto Iksan Iskandar menghimbau kepada seluruh warga Jeneponto tetap waspada, khususnya yang …