Kamis , Februari 22 2018
Home / News / Hati Yang Beriman Mulai Bersedih Akan Ditinggal Ramadhan
Mudzakkir Arif, MA
Pembina Pesantren Darul Istiqamah Bulukumba
Mudzakkir Arif, MA Pembina Pesantren Darul Istiqamah Bulukumba

Hati Yang Beriman Mulai Bersedih Akan Ditinggal Ramadhan

MAKASSARTERKINI.com – Nuansa sedih mendominasi hati yang beriman pada penghujung bulan mulia ramadhan, sedih karena tak lama lagi kita akan berpisah dengan bulan istimewa ini. Sedih karena kita belum mengoptimalkan kesyukuran kepada Allah atas nikmat ramadhan yang luar biasa ini. Sedih karena kita belum bertaubat sebagaimana mestinya pada bulan maghfirah ini. Sedih karena belum tentu kita masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan ramadhan tahun depan.

Kesedihan ini adalah bagian dari istisy’ar, yaitu penghayatan. Istisy’ar ramadhan. Istisy’ar at tagshirat fi ramadhan. Penghayatan kekurangan-kekurangan amal ibadah selama ramadhan.

Istisy’ar seperti ini melahirkan penyesalan, penyesalan yang menyedihkan, penyesalan yang memotivasi secara kuat untuk menebus semua kesalahan dan kekhilafan. Memperbaiki diri dengan meningkatkantaubat dan syukur kepada Allah.

Bagian lain dari istisy’ar ialah istisy’ar atas tsawab wal ujur minallah. Penghayatan balasan dan pahala dari Allah. Istisy’ar pada bagian ini berarti penghayatan setiap amal ibadah ramadhan dengan rasa bahagia atas janji pasti dan jaminan yang sangat meyakinkan dari Allah dan RasulNya.

Sedih atas dosa dan kesalahan serta bahagia atas amal ibadah adalah dua bagian dari istisy’ar ramadhan yang kita upayakan untuk seimbang sesuai keseimbangan Ar-Raja’ dan Al-Khauf (harap dan takut) pada diri kita.

Qs: Al-Anbiya’:90

Rasulullah SAW bersabda

مَن سَرَّتهُ حَسَنَتُهُ وَ سَاءَتهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤمِن

“siapa berbahagia atas kebaikannya dan bersedih atas keburukannya, maka ia adalah orang beriman”

Istisy’ar Motivasi I’tikaf

Istisy’ar ramadhan diikhtiarkan untuk memacu kita dalam melipat gandakan amal ibadah di hari-hari dan malam-malam terakhir dari bulan istimewa ini. Salah satunya dengan I’tikaf selama sepuluh terakhir dari ramadhan.

يَعتَكِفُو العَشرَ الأَوَاخِرَ مِن رَمَضَانَ حَتَّى تَوَّفَاهُ الله وَ اعتَكَفَ نِسَاؤُهَ مِن بَعدِهِ

“dari A’isyah -Radhiyallahi Anha- mengatakan: Nabi –shallallahu Alaihi Wasallam- senantiasa mengamalkan I’tikaf pada sepuluh terakhir bulan ramadhan, sampai beliau diwafatkan oleh Allah dan para istri belia Radhiyallahu Anhunna” mengamalkan I’tikaf sepeninggal beliau” HR. Al-Bukhari dan Muslim.

I’tikaf yang berarti tinggal di masjid dengan niat ibadah adalah amal istimewa yang sepatutnya kita optimalkan pada sepuluh hari sepuluh malam terakhir dari bulan mulia ramadhan.

I’tikaf adalah wujud optimalisasi amal ibadah di akhir ramadhan, mengejar keutamaan lailatul qadr, mengoptimalkan taubat, melipat gandakan amal ibadah guna meraih kemuliaan dan keutamaan ramadhan

Penghayatan kemuliaan itulah yang mendorong kita untuk memuliakan ramadhan, penghayatan pahala yang besar pada setiap amal ibadah ramadhan itulah yang membahagiakan kita pada setiap kali kita beribadah. Penghayatan kesedihan atas dosa-dosa kita dan kurangnya ibadah kita selama ini, itulah yang memacu kita bertaubat dan memperbaiki diri.

Penghayatan-penghayatan inilah yang disebut istisy’ar yang diikhtiarkan dapat memotivasi kita untuk saling mengajak, saling menasehati, salingmenguatkan, untuk mengamalkan I’tikaf efektif.

Semoga Allah senantiasa menambahkan hidayahNya kepada kita semua. Aamiin.

Mudzakkir Arif, MA
Pembina Pesantren Darul Istiqamah Bulukumba

Check Also

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis beberapa daerah di Sulsel yang masuk dalam kategori rawan bencana longsor, Rabu 28 September 2016 / Arul ramadhan

Bupati himbau masyarakat waspada, Jeneponto bakal dilanda “banjir”

JENEPONTO – Bupati Jeneponto Iksan Iskandar menghimbau kepada seluruh warga Jeneponto tetap waspada, khususnya yang …