Selasa , Januari 23 2018
Home / Headline / Ini 7 Daerah di Sulsel yang Tercemar dan Memakan Korban Jiwa
Aktivis tolak reklamasi berunjuk rasa di Pantai Losari Minggu, 10 April 2016 / Foto : Arul Ramadhan
Aktivis tolak reklamasi berunjuk rasa di Pantai Losari Minggu, 10 April 2016 / Foto : Arul Ramadhan

Ini 7 Daerah di Sulsel yang Tercemar dan Memakan Korban Jiwa

MAKASSAR – Beberapa daerah di Sulsel kondisi lingkungan hidupnya telah mengalami kerusakan yang berakibat pada menurunnya sumber penghidupan masyarakat. Hal ini diakibatkan adanya industri ekstraksi maupun kegiatan pengerukan dan pengurugan yang dilalukan oleh perusahaan disekitar wilayah kelola masyarakat.

“Sehingga aktivitas tersebut yang membuat kerusakan pada lingkungan dan wilayah kelola masyarakat,” kata Koordinator Advokasi dan Kampanye Walhi Sulsel, Muhammad Al Amin kepada MAKASSARTERKINI.com Minggu 5 Juni 2016

Berikut beeberapa kegiatan ekstraktif yang melakukan pencemaran lingkungan hidup sehingga menimbulkan konflik yang terjadi sepanjang tahun 2014 hingga 2016 :

1. Tambang pasir ilegal
Desa Mandalle, Kecamatan Bajeng Barat, Kabupaten Gowa. 1 orang meninggal, 24 petani terdampak

2. Tumpahan minyak PT Vale di laut Desa lampia, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur.
97 nelayan tidak dapat melaut akibat tercemarnya wilayah tangkap mereka,

3. Perampasan tanah
Desa ciromanie, kecamatan keera, kabupaten wajo 3000 desa Awota, Awo, Paojepe, Lubawang, Ciromanie, Bellereng, Inrello, lalliseng.

4. Eksplorasi PT Conch (Tambang batu gamping)
Desa sambueja, desa simbang kecamatan simbang, desa toddolimae kecamatan tompobulu Kabupaten Maros. 135 Petani tercemar sumber airnya. 115 laki-laki 20 perempuan.

5. Reklamasi pantai dan pembangunan CPI
Kelurahan mariso, lette, panambungang, tamalate kecamatan mariso, tamalate, kota makassar
964 Nelayan kehilangan pekerjaannya, 43 KK nelayan digusur dari tempat tinggalnya tahun ini, tidak adanya akses air bersih bagi masyarakat Kelurahan Cambayya, Camba Berua, Buloa, Tallo, Bangkala, Kecamatan Ujung Tanah, dan Kecamatan Tallo. 870 perempuan sulit mengakses air bersih.

6. Tambang batu gamping dan pembangunan pabrik semen PT Conch Kelurahan sepee, Kecamatan Barru Kabupaten Barru. 28 masyarakat Barru komplain terhadap potensi kerusakan lingkungan.

7. Pembangunan bendungan dan PLTA Waliayah adat seko. 1027 Masyarakat adat seko menolak bendungan dan pembangunan PLTA. Total Masyarakat Yang terdampak. 6188 Orang (1007 Nelayan, 5161 Petani dan masyarakat adat) Masyarakat yang meninggal 1 Orang.

Olehnya itu, Walhi Sulsel mendesak pemerintah Sulawesi Selatan untuk melakukan moratorium pertambangan di kawasan karst dan melakukan moratorium aktivitas reklamasi di pesisir Sulsel.

“Kami juga mendesak pemerintah Sulsel dan kota Makassar untuk memberikan akses air bersih kepada masyarakat, terutama kepada kaum perempuan,” ungkapnya.

Selain itu, Walhi Sulsel, mendesak pemerintah sulawesi selatan untuk melakukan penegakan hukum lingkungan terhadap pelaku perusakan lingkungan dan menyelamatkan warga Sulawesi Selatan dari kerusakan lingkungan.

Herman Kambuna

Check Also

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis beberapa daerah di Sulsel yang masuk dalam kategori rawan bencana longsor, Rabu 28 September 2016 / Arul ramadhan

Bupati himbau masyarakat waspada, Jeneponto bakal dilanda “banjir”

JENEPONTO – Bupati Jeneponto Iksan Iskandar menghimbau kepada seluruh warga Jeneponto tetap waspada, khususnya yang …