Selasa , Januari 23 2018
Home / Film / Ini harapan aktivis 1990-an terhadap film Amarah
April Makassar Berdarah (Amarah) merupakan salah satu gerakan masif mahasiswa Ujungpandang (sekarang Makassar) pada 1996 yang bermula dari penolakan atas keluarnya surat keputusan (SK) Wali Kota Ujungpandang terkait kenaikan tarif angkutan kota (anggot) yang dikenal sebagai petepete di Ujungpandang. / Ist
April Makassar Berdarah (Amarah) merupakan salah satu gerakan masif mahasiswa Ujungpandang (sekarang Makassar) pada 1996 yang bermula dari penolakan atas keluarnya surat keputusan (SK) Wali Kota Ujungpandang terkait kenaikan tarif angkutan kota (anggot) yang dikenal sebagai petepete di Ujungpandang. / Ist

Ini harapan aktivis 1990-an terhadap film Amarah

MAKASSAR – Rencana pembuatan film bergenre biografi, yang menguak kisah novel sejarah dari peristiwa “Makassar Berdarah” yang kemudian dikenal tragedi April Makassar Berdarah (Amarah) yang terjadi pada 24 April 1996. Di sini, tiga mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) menjadi korban meninggal.

Novel ditulis Rasmi Ridjang Sikati alias Inka mendapatkan dukungan dari beberapa aktivis 1990-an sekaligus saksi sejarah pada saat itu.

Agus Baldie yang merupakan alumni Fakultas Teknik Angkatan 1991 berharap proses pembuatan film tersebut, pembuat film bukan hanya mengangkat naskah kronologi kejadiannya akan tetapi lebih mengulas seperti apa realita kehidupan antara kedua institusi yang “bentrok” kala itu, bagaimana sisi kehidupan militer dan seperti apa atmosfer yang terjadi dalam dinamika gerakan dalam kampus.

“Dalam film ini, saya berharap bukan kronologisnya saja, karena hanya berbicara persoalan biografinya. Bagaimana film ini dapat dikemas secara simultan, dengan informasi secara permanen sehingga tidak ada nilai sejarah yang putus pada saat itu. Kemudian bagaimana kondisi psikologis masing-masing institusi baik militer maupun mahasiswa,” terang Agus saat dikonfirmasi, Kamis (22/9/2016).

Ia berharap film Amarah dapat mengangkat humanitas dan sisi hitam-hutih kejadian. “Bangun film berdasarkan sumber informasi yang terpercaya, dan bangun secara utuh sehingga gambar-gambar dapat mewakili kejadian yang sesungguhnya,” paparnya.

Agus juga berpesan agar film ini berpatokan terhadap idealisme. Sehingga, idealismelah yang dapat mendukung realitas dalam film ini. “Jangan hanya dari salah satu peran yang memiliki peran protagonis da antagonisnya, akan tetapi tetap mengangkat kedua latar belakang kedua komunal ini. Di situlah letak konfliknya sehingga film bisa ditayangkan secara elok,” tegasnya.

Sementara, Asram Jaya salah satu aktivis angkatan 1993 menjelaskan, sangat mengapresiasi pembuatan film ini. Pasalnya, dalam pengemasan film tersebut ada sisi hiburan yang dapat dimuat.

“Kami apresiasi jika betul Amarah rencana difilmkan sebagai bentuk dokumentasi yang dikemas dalam visual hiburan. Kami berharap film menampilkan gambar utuh terkait kejadian itu, sebab ini berhubungan dengan sejarah mahasiswa. Selain itu, kami berharap film itu bisa menyampaikan peran mahasiswa berhadapan rezim otoriter pada saat itu,” ulas Asram melalui WhatsApp.

Adapun Firmansyah Lafiri, aktivis angkatan 1995 berharap, setelah rampungnya film ini mahasiswa dapat “belajar” menyuarakan hak-hak demokratisnya sehingga tidak menimbulkan korban seperti yang terjadi pada saat itu. Ia berpesan kepada pemangku kebijakan agar tidak membuat kebijakan yang merugikan rakyat.

Prayudha

Check Also

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis beberapa daerah di Sulsel yang masuk dalam kategori rawan bencana longsor, Rabu 28 September 2016 / Arul ramadhan

Bupati himbau masyarakat waspada, Jeneponto bakal dilanda “banjir”

JENEPONTO – Bupati Jeneponto Iksan Iskandar menghimbau kepada seluruh warga Jeneponto tetap waspada, khususnya yang …