Senin , Januari 22 2018
Home / Budaya / Memilih Kematian
Ilustrasi cepen Memilih Kematian. / Ist
Ilustrasi cepen Memilih Kematian. / Ist

Memilih Kematian

Memilih Kematian
Oleh Gita Nuari

MAKASSARTERKINI.COM – Aku merindukan mati di tangan istriku. Sungguh. Dan bahkan ingin secepatnya terlaksana. Tetapi mungkinkah istriku akan melakukan niatku itu, niat yang jarang diingini suami yang ada di muka bumi ini. Keinginan mati di tangan istri ini tidak kusampaikan secara langsung kepada istriku. Tentunya kalau aku berterus-terang akan jadi hal yang aneh bagi istriku.

Yohana, nama istriku itu, pasti akan mempertanyakan diriku kenapa, dan tentunya akan mengatakan aku ini gila. Ah, tidak. Dokter ahli jiwa yang memeriksaku mengatakan bahwa aku telah kembali sehat, alias normal. Jujur saja, aku merasa gemas sekali bila melihat istriku tengah menguliti kulit kentang atau sewaktu dia mengupasi kulit bawang di dapur. Aku ingin yang dikuliti adalah tubuhku.

Namun ketika kudekatkan diriku ke pisau yang dipegangnya, dia malah memelukku dan mengecup bibirku mesra. Mungkin dia mengira aku sedang merajuknya untuk bermesraan. Ah, tidak. Itu salah. Yang kuinginkan adalah kematian yang diproses tangannya.

Untuk hal ini aku sabar menunggu. Menunggu istriku kerasukan setan saat melihat diriku jadi sesuatu yang harus dia kuliti, sesuatu yang harus dia sayat-sayat seperti daging rendang, dicacah seperti daging cincang. Aku yakin, suatu saat keinginanku ini pasti terwujud. Tetapi, bukankah aku suami yang sangat dia cintai? Seorang pria terbaik di dalam hidupnya? Apapun anggapannya, aku tetap ingin mati di tangannya.

***

Kesempatan mati di tangan istriku selalu ada. Karena hampir setiap hari istriku belanja sesuatu yang harus dikupasnya menggunakan benda tajam. Semua bahan masakan yang dibelinya harus diracik dengan menggunakan pisau. Dipotong-potong hingga jadi beberapa bagian. Dan sewaktu istriku mencincang seekor ayam untuk digoreng, aku dekatkan leherku ke atas talenan di mana pisau yang dipegang istriku sedang berjalan-jalan di atas talenan itu. Istriku terhenyak.

“Apa-apaan sih kamu, Mas!” hardiknya sambil mengelakkan pisau yang dipegangnya dari leherku.

Dan sekali waktu, pernah kucoba lagi mendekatkan diriku di saat dia sedang mengiris-iris daging untuk dibuat rendang. Aku letakkan leherku di atas talenan secara tiba-tiba. Istriku menjerit karena hampir saja pisau yang dipegangnya mengenai leherku.

Seketika itu juga pisau yang dipegangnya dia lempar ke pojok dapur. Lalu istriku memelukku dan meminta maaf atas keteledorannya. Sejurus kemudian dia menarikku ke dalam kamar. Membuka seluruh pakaianku. Beberapa menit kemudian dia membangkitkan gairah kelelakianku. Sejenak aku dibuat melayang. Akhirnya kami letih bersama. Setelah selesai, kepalaku diberi bantal dan kemudian disuruhnya aku tidur. Sialan! Aku benar-benar tertidur karena kecapekan.

Aku merindukan mati di tangan istriku. Sungguh. Dan kalau bisa secepatnya. Pasti asyik. Dan aku tak akan kecewa. Supaya niatku terlaksana, aku harus membuat istriku kesal dan sakit hati. Dengan begitu dia pasti kesal bahkan benci. Jika terus-menerus kubuat hatinya jengkel, lambat laun niat membunuh akan muncul dalam dirinya. Tetapi bagaimana, apakah aku bisa mempengaruhi setan agar mau menggoda hatinya untuk membunuhku tanpa rasa kasihan barang sedikit pun? Harus dicoba terus.

Check Also

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis beberapa daerah di Sulsel yang masuk dalam kategori rawan bencana longsor, Rabu 28 September 2016 / Arul ramadhan

Bupati himbau masyarakat waspada, Jeneponto bakal dilanda “banjir”

JENEPONTO – Bupati Jeneponto Iksan Iskandar menghimbau kepada seluruh warga Jeneponto tetap waspada, khususnya yang …