Selasa , Januari 23 2018
Home / Internet / Mengapa Google Rayakan Ulang Tahun Daeng Soetigna?
Mengapa Google Rayakan Ulang Tahun Daeng Soetigna?
Mengapa Google Rayakan Ulang Tahun Daeng Soetigna?

Mengapa Google Rayakan Ulang Tahun Daeng Soetigna?

MAKASSAR – Jika melihat laman pencari Google hari ini Jumat 13 Mei 2016, ada sesuatu yang berbeda disana. Google menampilkan doodle seorang lelaki yang bermain alat musik angklung dengan dua anak kecil.

Dia adalah Daeng Soetigna seniman angklung dari Jawa Barat. Sepintas namanya memang sangat identik dengan panggilan bangsawan di Suku Bugis Makassar, namun Daeng Soetigna sama sekali bukanlah orang Sulawesi Selatan. Ia lahir di Garut dan besar hingga berkarir di Bandung.

Lalu apa yang membuat Daeng Soetigna istimewa hingga Google turut serta merayakan ulang tahunnya?

daeng soetigna

Daeng Soetigna adalah pencipta angklung diatonis. Sebelum tangan Daeng Soetigna mengutak-atiknya, angklung hanya punya lima nada seperti pada gamelan.

Daeng berhasil mengubah angklung yang tadinya bernada pentatonik menjadi diatonik, punya delapan nada dalam tiap oktaf. Angklung pun bisa dimainkan lebih bebas sebagai melodi lagu.

Lihat Juga: Sambut Ramadhan PLN Gelar Program LAZIS

Dengan alat tradisional itu pula ia merangkai musik. Aransemen demi aransemen yang ia buat sampai bisa dimainkan sekelas konser. Ia menciptakan semua itu disaat usianya tidak muda lagi. Ia berhasil merubah nada angklung saat usia 56 tahun di 1964.

Daeng Soetigna kemudian lebih dikenal sebagai pencipta angklung ketimbang profesinya terdahulu sebagai guru. Angklung yang ia ciptakan bahkan disebut Angklung Padaeng.

Daeng berhasil mengangkat derajat angklung yang sebelumnya dianggap sebagai alat musik kelas bawah menjadi sesuatu yang bergensi. Apalagi saat ini.

Menurut cerita Wikipedia, inspirasi Daeng Soetigna saat itu berawal dari seorang pengemis tua. Dari pengemis itu Daeng membeli angklung pertamanya, lalu memodifikasinya.

Lihat Juga: Film ‘1 Cinta di Bira’ Pamerkan Kemolekan Bulukumba

Ia berguru pada seorang empu pembuat angklung yang sudah sepuh. Sebelumnya, Daeng tahu dari seorang petani bahwa bambu yang baik dan awet untuk angklung harus dipotong saat kering, yakni musim kemarau.

Angklung modifikasinya ia ajarkan ke berbagai kelompok musik di sekolah-sekolah, bahkan istri para militer dan suster-suster di gereja. Menurutnya itu bisa jadi alat alternatif yang lebih murah untuk mengajarkan musik.

Ia juga pernah unjuk gigi memainkan angklung di hadapan para pesohor bangsa, termasuk Presiden Soekarno. Semua terpukau. Angklung ternyata bisa mengiringi musik Barat.

Saat upayanya berhasil dan kini nama angklung bergaung di mana-mana, Daeng mendapat ganjarannya. Ia menerima banyak penghargaan, termasuk Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Republik Indonesia.

Lihat Juga: Pedagang Ikut Ramaikan Acara Wisuda UMI

Penghargaan Nasional Hak Kekayaan Intelektual 2013 dari Menteri Hukum dan Hak Asasi RI sebagai pencipta angklung pun jatuh ke tangannya dari Amir Syamsuddin.

Hari ini, Jumat (13/5) Daeng pun dikenang melalui Google Doodle. Sosoknya membawa angklung dengan dua anak kecil menghiasi halaman awal mesin pencari nan canggih itu.

Seharusnya kini, tepat pada hari ulang tahun pada 13 Mei, Daeng berusia 108 tahun. Namun sang bapak angklung meninggal pada 8 April 1984 dan dimakamkan di Cikutra, Bandung.

Check Also

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis beberapa daerah di Sulsel yang masuk dalam kategori rawan bencana longsor, Rabu 28 September 2016 / Arul ramadhan

Bupati himbau masyarakat waspada, Jeneponto bakal dilanda “banjir”

JENEPONTO – Bupati Jeneponto Iksan Iskandar menghimbau kepada seluruh warga Jeneponto tetap waspada, khususnya yang …