Rabu , Februari 21 2018
Home / Budaya / Museum dan Seniman Islam Australia
Patung Big Jihad / Foto : Yanuardi Syukur
Patung Big Jihad / Foto : Yanuardi Syukur

Museum dan Seniman Islam Australia

MENGUNJUNGI Islamic Museum of Australia (IMA) adalah salah satu yang berkesan dalam kunjungan kami. Ternyata, di Australia ini ada juga museum Islam. Kalau di Indonesia tentu sudah biasa, walaupun tidak semua tempat di Indonesia juga ada museumnya.

Di museum kami melihat pajangan tentang sejarah Islam secara umum dari Timur Tengah, dan Islam di Australia. Juga, kami melihat lukisan dan fotografi bernafaskan Islam. Salah satu foto yang dipajang adalah hasil jepretan Natalia Gould berjudul My Village Mosque di Sumatera Barat. Natalia adalah keturunan campuran Indonesia-Australia. Keluarganya berasal dari Padang. Ia adalah adik dari Rowan Gould.

Di sini juga ada dua buah patung laki-laki kembar berjudul Big Jihad. “Jihad terbesar adalah melawan diri kita sendiri yang disimbolkan dalam dua patung kembar tengah mengepalkan tangan satu sama lain,” kata Nur Shkembi, Direktur Seni IMA, yang juga alumni MEP 2014.

Lihat juga : Pelaut Makassar Pertama Kali Bawa Islam ke Australia

Di beberapa lemari saya lihat buku yang dijual. Beberapa di antaranya adalah A Year with Rumi karangan Coleman Barks, dan satu lagi berwarna kuning terkait Rumi juga. Selain itu, ada juga buku Prayers of the Last Prophet karya Yusuf Islam, Ali Abdul the King karya Hanifa Deen, History of the Muslim Discovery of the World karya Dzavid Haveric, dan Australia’s Muslim Cameleers karya Philip Jones dan Anna Kenny.

Buku kuliner juga dijual di sini berjudul Eat with Love: Middle Eastern Cooking karya Samira El Khafir. Tentu saja yang cukup penting terkait museum ini adalah buku berjudul The Journey: Establishing Australia’s First Islamic Museum karya Moustafa Fahour OAM.

Akhirnya, kunjungan di museum kami tutup dengan dinner bersama beberapa seniman. Ada pelukis, pembuat film dokumenter, dan sebagainya. Kami berdiskusi di sebuah meja panjang tentang proses kreatif masing-masing orang di restoran Maroko, Maroccan Soup Bar yang beralamat di 183 St. Georges Rd, North Fitzroy.

Saya duduk sampingan dengan Nazid Kimmie, salah seorang pembuat film. Salah seorang pelukis memperlihatkan beberapa foto lukisannya di ponsel. Katanya, ia kalau melukis harus benar-benar konsen, dan tidak langsung jadi, karena ia harus mengeksplorasi ide-ide kemudian menuangkannya dalam kanvas.

Ketika ia ‘terganggu’, ia berhenti sejenak (‘mengasah gergaji’ dalam bahasa Stephen R. Covey), kemudian melanjutkan lagi lukisannya di waktu yang tepat.

Yanuardi Syukur
– Peserta Pertukaran Tokoh Muslim Muda Indonesia mengunjungi 3 Kota di Australia
– Dosen Universitas Khairun Ternate

Check Also

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis beberapa daerah di Sulsel yang masuk dalam kategori rawan bencana longsor, Rabu 28 September 2016 / Arul ramadhan

Bupati himbau masyarakat waspada, Jeneponto bakal dilanda “banjir”

JENEPONTO – Bupati Jeneponto Iksan Iskandar menghimbau kepada seluruh warga Jeneponto tetap waspada, khususnya yang …