Senin , Januari 22 2018
Home / Budaya / Penebusan dan Pergantian Luka Masa Lalu
Ilustrasi cerpen Penebusan dan Pergantian Luka Masa lalu. / Ist
Ilustrasi cerpen Penebusan dan Pergantian Luka Masa lalu. / Ist

Penebusan dan Pergantian Luka Masa Lalu

Penebusan dan Pergantian Luka Masa Lalu
Oleh Mariska Tracy

MAKASSARTERKINI.COM – Bibir Tania beku sesaat dan sulit untuk digerakkan kembali. Terasa kering dan retak begitu cepat. Ia tidak percaya pada sehelai kertas yang kini berada di tangannya. Kertas itu dibiarkannya tertiup angin dan terjatuh di bawah kakinya. Sesaat, ia mengenang peristiwa lima menit yang lalu.

“Tan, saya harap kamu tabah mendengar kabar ini. Kamu positif mengidap penyakit kanker otak,” ujar Dokter Ferry yang masih sangat muda dan simpatik.

“Saya belum mau mati, Dok!” ungkap Tania dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu harus punya semangat Tania. Kabar baiknya, kanker kamu masih dalam tahap stadium satu. Kamu masih bisa menjalani pengobatan,” hibur sang Dokter.

Air mata Tania tumpah begitu saja. Bisa dikatakan setelah sekian lama menahan setiap gejolak perasaan, baru kali ini bisa ditumpahkan semuanya. Ingin rasanya menggigit lidahnya dengan kencang dan berharap tidak ada rasa sakit sedikit pun karena ia berharap ini hanya mimpi di siang bolong.

***

Di dalam kamarnya, Tania hanya ingin mengurung diri. Ia tidak ingin menemui siapa pun. Ia kecewa akan hidup ini. Kecewa terhadap diri sendiri yang begitu bodoh karena membenci sekaligus mencintai pula dengan sangat mendalam kepada seseorang yang tidak pantas untuk diharapkan.

Juga kecewa kepada Tuhan yang telah memberikan bibit penyakit ini. Ia bukan anak orang kaya yang mampu untuk membayar biaya pengobatan rumah sakit yang sudah pasti memakan biaya besar. Meskipun dokter menyatakan kalau ia masih ada kemungkinan untuk sembuh. Mungkin di antara sekian makhluk Tuhan, ia merasa yang paling menderita saat ini.

Oh, Tuhan mengapa tidak Engkau berikan aku kanker stadium empat atau lima saja biar aku langsung mati dan tidak merepotkan Mama! begitu batinnya berteriak lirih.

Ia meraung-raung di atas ranjangnya hingga membasahi sprei dan bantal. Air mata di pipi terus mengalir dengan lancarnya. Sudah lama ia tidak merasakan perasaan seperti ini walaupun sesungguhnya kesedihan itu sudah menjadi makanannya sehari-hari. Namun, ia enggan untuk mengeluarkan air mata. Hanya Tuhan dan dirinya yang tahu apa yang sedang ia alami. Jika bisa jantung hatinya itu dibelah, mungkin sudah menjadi borok dan bentuknya sudah tidak karuan lagi.

***

Sebelum aku mati, bajingan itu harus mati terlebih dulu.

Akal liciknya mulai muncul lagi. Tania merasa hidupnya sudah tidak berguna lagi dan ia tidak akan membiarkan Sandy hidup berbahagia dengan orang lain. Apalagi sampai melihatnya tertidur dengan bernisankan batu pemakaman.

Dirogohnya laci di bawah meja kerja dalam kamarnya. Ternyata racun di dalam plastik biru muda itu masih ada. Obat-obatan keras yang mampu menghilangkan nyawa secara perlahan, namun pasti itu masih disimpannya. Itu semua karena ia memang ada niat untuk bunuh diri setelah dicampakkan Sandy.

Rupanya Tuhan ingin agar aku memberikan ini untuk Sandy, bukan untuk aku! Senyum liciknya mulai mengembang.

Check Also

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis beberapa daerah di Sulsel yang masuk dalam kategori rawan bencana longsor, Rabu 28 September 2016 / Arul ramadhan

Bupati himbau masyarakat waspada, Jeneponto bakal dilanda “banjir”

JENEPONTO – Bupati Jeneponto Iksan Iskandar menghimbau kepada seluruh warga Jeneponto tetap waspada, khususnya yang …