Senin , Januari 22 2018
Home / Budaya / Pensiunan
Ilustrasi cerpen Pensiunan. / Ist
Ilustrasi cerpen Pensiunan. / Ist

Pensiunan

Pensiunan
Oleh Amril Taufik Gobel

MAKASSARTERKINI.COM – Hidup tanpa sempat berbuat dan bekerja apa-apa memang teramat membosankan. Semua serba salah dan menjenuhkan. Lalu aku harus bilang apa? Masa pensiun yang baru saja kulewati lima hari, dengan dua anak yang telah dewasa dan menikah lalu mencari kehidupan sendiri-sendiri, serta status duda ditinggal istri tiga tahun silam, bermukim di rumah besar dan megah yang hanya didampingi si Ijah, sang pembantu dan si Otong, tukang kebun, benar-benar membuatku seperti kafilah yang tersesat di gurun pasir yang gersang. Sepi, sunyi dan yang paling kubenci: sendirian!

Sebagai mantan kepala instansi pemerintah, aku telah sangat terbiasa dengan rutinitasku. Sarapan pagi; berangkat ke kantor diantar Dirman, sopir mobil dinas; membalas sapaan ‘selamat pagi’ dari para bawahan; menerima telepon; memimpin rapat; menandatangani surat-surat; kembali ke rumah; baca koran sore sambil minum kopi panas; nonton TV; tidur dan siklusnya berulang lagi dari awal. Begitu seterusnya. Ibarat roda berputar, selama sepuluh tahun aku memangku jabatan.

Kini semua telah hilang. Sejak serah terima jabatan dengan Pak Indra, lima hari lalu, segala bentuk ‘rutinitasku’ seperti direnggut paksa olehnya. Bayangkan, semua yang telah menjadi bagian yang satu dengan jiwa dan hidupku mendadak sirna, sehari setelah acara serah terima jabatan, yang ‘brengsek’ itu.

Terus terang, aku sangat membenci itu semua. Kebencianku tiba-tiba naik ke ubun-ubun saat Dirman mengucapkan kata-kata perpisahan.

“Pak, hari ini adalah hari terakhir saya mengantar Bapak. Besok, saya sudah harus mengantar Pak Indra. Maafkan atas segala kesalahan saya, dan….”

Belum sempat Dirman menyelesaikan kalimatnya, aku segera menukas ketus, “Sudah, pergi sana. Bapak memang sudah pensiun dan kita tidak punya hubungan apa-apa lagi.”

Dirman, seperti biasa mengangguk pelan dengan kedua belah tangan disedekapkan, sebagai simbol kepatuhan yang sangat kukenal darinya bertahun-tahun.

Aku memang ngotot untuk mencari alasan pembenaran atas segala tindakanku dan itu ‘dibahasakan’ Nastiti, putri tertuaku, sebagai ‘keras kepala’. Istilah ini mencuat karena menolak mentah-mentah keinginannya untuk menikah dengan Mukhlis, si Pelukis Kere. Kalaupun kemudian mereka jadi melangsungkan pernikahan dan sekarang tinggal menetap di Ambon, itu tetap tidak mengubah keputusanku untuk tidak berhubungan lagi dengannya.

Hal yang sama juga aku berlakukan kepada Firman, anak bungsuku yang minggat ke Yogyakarta, karena hasratnya ingin menjadi pelukis, mengikuti jejak iparnya si Mukhlis kere yang tiap hari hidup bersama ‘idealisme’ itu. Kabar terakhir yang kudengar tentang Firman, ia telah menikah dengan putri seorang priyayi Yogyakarta. Meski surat undangannya datang seminggu sebelum pernikahannya, aku tetap menolak menghadirinya.

Aku memang tidak memaafkan sikapnya menentangku dengan sengit, dua tahun silam. Aku selalu berusaha menemukan alasan pembenarannya meski terkadang harus mengorbankan perasaan. Tak dapat kuingkari, dari sanubari paling dalam, aku sangat mencintai kedua darah dagingku itu.

Check Also

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis beberapa daerah di Sulsel yang masuk dalam kategori rawan bencana longsor, Rabu 28 September 2016 / Arul ramadhan

Bupati himbau masyarakat waspada, Jeneponto bakal dilanda “banjir”

JENEPONTO – Bupati Jeneponto Iksan Iskandar menghimbau kepada seluruh warga Jeneponto tetap waspada, khususnya yang …