Sabtu , Februari 24 2018
Home / Headline / Perda LAD Gowa digugat Maddusila, karena tidak sah
I Maddusila Daeng Manyonri Karaeng Katangka Sultan Alauddin II (foto: Prayudha)
I Maddusila Daeng Manyonri Karaeng Katangka Sultan Alauddin II (foto: Prayudha)

Perda LAD Gowa digugat Maddusila, karena tidak sah

GOWA – Andi Maddusila akan menggugat Peraturan Daerah (Perda) Lembaga Adat Daerah (LAD) Kabupaten Gowa ke Mahkamah Agung (MA). Perda tersebut dianggap tidak sah.

“Setelah berkonsultasi dengan Kementerian Dalam Negeri, ternyata Perda tersebut dianggap melanggar Undang-Undang yang mengatur tentang kesultanan dan kerajaan. Jadi dari segi hukum itu tidak sah,” tegas Maddusila.

Sejak awal, ungkap Raja Gowa ke-37 yang bergelar I Maddusila Daeng Mannyonri Karaeng Katangka Sultan Aluddin II, pemberlakukan Perda LAD sudah dipersoalkan sejumlah pihak. Maddusila mengaku telah menyiapkan materi gugatan yang akan diajukan ke MA. Dirinya bersama pengacara sisa menunggu waktu yang tepat, untuk segera mengajukan gugatan.

Perda LAD tersebut menunjuk Bupati Gowa Adnan Purictha Ichsan sebagai ketua LAD dan menjalankan tugas dan fungsi pokok Sombayya ri Gowa. “Tidak boleh bupati yang menjadi ketua lembaga adat. Apalagi menjalankan tugas dan fungsi Sombayya,” kata Andi Maddusila.

Perda LAD diduga upaya baru untuk meruntuhkan kesakralan satu kerajaan agar bisa dikendalikan pemerintah kabupaten Gowa. “Pemberlakukan Perda LAD ini mengatur ruang gerak dan posisi Kerajaan Gowa yang punya aturan sendiri, dan tidak perlu diatur kembali pemerintah,” ungkapnya.

Berdasarkan regulasi Perda LAD Kabupaten Gowa yang kemudian belakangan diubah menjadi Perda Penataan Lembaga dan Budaya Daerah, dalam beberapa pasal salah satunya yang sudah direvisi pada Bab III Pasal 3 menyebutkan bahwa Bupati Gowa adalah Ketua Lembaga Adat (LAD) yang berperan menjalankan fungsinya sebagai Somba atau pemimpin.

Sementara berdasarkan aturan kerajaan, penetapan Somba tidak boleh sembarangan,  dan harus dari darah keturunan Raja Gowa sebelumnya. Sebelum direvisi, lanjut Maddusila, Ranperda LAD menyebutkan Bupati Gowa adalah raja. Kemudian diubah karena dinilai bisa menyakiti keturunan raja asli. Pada perda itu tidak lagi disebut Bupati Gowa sebagai Raja Gowa, tetapi berfungsi sebagai Sombayya ri Gowa.

Pertarungan politik Bupati Gowa Adnan Purichta dengan Raja Gowa Andi Maddusila sejak dulu sudah memanas. Mulai dari ayahnya, Ichsan Yasin Limpo pada 2005 pada saat akan maju sebagai Calon Bupati, hingga memimpin Gowa dua priode, dan kini digantikan anaknya.

 

Check Also

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis beberapa daerah di Sulsel yang masuk dalam kategori rawan bencana longsor, Rabu 28 September 2016 / Arul ramadhan

Bupati himbau masyarakat waspada, Jeneponto bakal dilanda “banjir”

JENEPONTO – Bupati Jeneponto Iksan Iskandar menghimbau kepada seluruh warga Jeneponto tetap waspada, khususnya yang …