Sabtu , Februari 24 2018
Home / Event / Peringatan Mangrove Day Diharap Menginspirasi Kepedulian Warga
Yayasan Hutan Biru memperingati Hari Mangrove Internasional / Prayudha
Yayasan Hutan Biru memperingati Hari Mangrove Internasional / Prayudha

Peringatan Mangrove Day Diharap Menginspirasi Kepedulian Warga

MAKASSAR – Sebagian besar lokasi di Indonesia yang niatnya baik di rehabilitasi mangrove di Indonesia ternyata masih menemui kendala. Sejak tragedi tsunami Aceh dan pantai Selatan Jawa, Indonesia (bahkan dunia) “terjaga” dan mulai serius mengembangkan upaya mitigasi bencana tsunami.

Mangrove mulai dilirik dan dianggap cukup strategis. Sayangnya, luas hutan mangrove di Indonesia semakin berkurang, jika pada 1982, Hutan Mangrove seluas 4,2 juta hektar, kini tersisa 3,7 juta hektar lebih.

Di Sulawesi Selatan luas mangrove sebelum tahun 80-an yaitu 214.000 Hektar menurun menjadi hanya 23.000 Ha pada tahun 1991. Penyusutan ini antara lain karena konversi lahan menjadi tambak, penggunaan kayu mangrove untuk bahan industri, kayu bakar dan reklamasi pantai yang makin marak.

Direktur Blue Forests, Yusran Nurdin, mengungkapkan banyak pihak kemudian terlibat dalam upaya mengembalikan mangrove di sabuk hijau pesisir pantai untuk tujuan ini. Setiap tahunnya banyak pihak melakukan kegiatan rehabilitasi mangrove dan berharap dapat mengembalikan ekosistem mangrove yang hilang atau menambah “sabuk hijau”. Namun belum menunjukkan hasil yang menggembirakan.Tingkat keberhasilan rehabilitasi mangrove di Indonesia dan asia pasifik masih sangat rendah.

Roy Robin lewis; praktisi mangrove dunia dari Mangrove Action Project merilis temuannya bahwa 90% project restorasi mangrove tidak mencapai tujuan restorasi. Sebagian besar kegagalan rehabilitasi disebabkan oleh lahan rehabilitasi bukan merupakan habitat mangrove sebelumnya terutama di luar sabuk hijau. Juga faktor penghambat pertumbuhan alami tidak dikaji dengan baik. Terlalu fokus pada upaya pembibitan dan penanaman.

“Perlu pengkajian mendalam terhadap kelayakan lokasi rehabilitasi agar niat baik rehabilitasi dan anggaran yang digunakan tidak mubasir karena berhasil mencapai tujuan rehabilitasi yaitu mangrove tumbuh dengan baik,” Kata Yusran saat dikonfirmasi MAKASSARTERKINI.com, Selasa 26 Juli 2016.

Yusran menambahkan Mangrove Biodiversity Revive ini adalah rangkaian peringatan International Mangrove Day yang jatuh pada tanggal 26 Juli setiap tahunnya. Tema yang diangkat untuk perayaan tahun ini adalah Future Mangrove: from Grey to Green.

Tema ini diangkat untuk mendorong upaya rehabilitasi mangrove di kawasan yang sebelumnya adalah habitat mangrove. Kegiatan lainnya adalah mengajak blogger dan fotografer untuk mengunjungi Pulau Panikiang, Barru dalam kegiatan Education Trip. Mereka berdiskusi tentang perubahan iklim, mendokumentasikan kondisi hutan mangrove, potensi wisata dan penghidupan masyarakat di Pulau Panikiang.

“Mereka diharapkan menginspirasi banyak orang untuk melakukan aksi nyata pelestarian mangrove melalui foto dan tulisan di blog yang menggugah. Nonton Bareng Film tentang kita juga dilakukan untuk mengajak masyarakat terutama kalangan muda untuk menonton film bertema lingkungan. Video ini adalah buah karya pelajar SD dan SMP di Tanakeke yang mengangkat isu lingkungan di sekitarnya,” pungkasnya.

Prayudha

Check Also

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis beberapa daerah di Sulsel yang masuk dalam kategori rawan bencana longsor, Rabu 28 September 2016 / Arul ramadhan

Bupati himbau masyarakat waspada, Jeneponto bakal dilanda “banjir”

JENEPONTO – Bupati Jeneponto Iksan Iskandar menghimbau kepada seluruh warga Jeneponto tetap waspada, khususnya yang …