Rabu , Januari 24 2018
Home / News / SIEJ Sulsel Diskusi Masalah Air Makassar
Komunitas jurnalis pemerhati masalah lingkungan (the Society of Indonesian Environmental Journalists/SIEJ) Simpul Sulawesi Selatan melakukan diskusi terkait permasalahan air khususnya di Kota Makassar, Sabtu 11 Juni 2016 / Echa
Komunitas jurnalis pemerhati masalah lingkungan (the Society of Indonesian Environmental Journalists/SIEJ) Simpul Sulawesi Selatan melakukan diskusi terkait permasalahan air khususnya di Kota Makassar, Sabtu 11 Juni 2016 / Echa

SIEJ Sulsel Diskusi Masalah Air Makassar

MAKASSAR – Komunitas Jurnalis Pemerhati Masalah Lingkungan (the Society of Indonesian Environmental Journalists/SIEJ) Simpul Sulawesi Selatan melakukan diskusi terkait permasalahan air khususnya di Kota Makassar.

“Krisis air bersih tengah mengancam peradaban manusia, tak terkecuali di Kota Makassar. Ke depan, defisit air tawar menjadi ancaman baru,” kata ketua panitia diskusi, Darwin Fatir, Sabtu 11 Juni 2016.

Menurut Darwin, perubahan iklim akibat pemanasan global dalam perubahan iklim membuat ketersediaan air dunia kian menyusut. Akibatnya, kebutuhan sekarang dan masa datang akan lebih sulit karena masyarakat membutuhkan pangan yang jumlahnya dua kali produksi pangan saat ini.

Darwin mengatakan kebutuhan air yang makin meningkat setiap tahun di tengah krisis lingkungan yang kian massif, patut mendapat perhatian dari pemerintah dan para pihak.

Mencermati fenomena itu di lapangan, maka SIEJ sebagai wadah jurnalis yang peduli dengan persoalan lingkungan mengundang para pihak untuk bertukar pikiran dan memberi masukan bagi pengambil kebijakan.

Turut hadir dalam diskusi tersebut adalah Kepala Departemen dan Advokasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulsel Muhammad Al Amin, Nur Asiah dari l Solidaritas Perempuan (SP) Anging Mammiri dan perwakilan dari Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kota Makassar selaku
narasumber.

Menurut Amin, Walhi Sulsel mencatat kebutuhan air bersih warga Kota Makassar rata-rata 150 liter/kapita/hari. Sementara kebutuhan air bersih yang diproduksi PDAM Makassar sejak dulu hingga kini hanya
mengandalkan air Bendungan Lekopancing di Kabupaten Maros dan Bendungan Bili-Bili di Kabupaten Gowa.

“Berkaitan dengan hal itu, warga Makassar sangat tergantung dari suplai air dua daerah penyangga tersebut yang nota bene juga tergantung dari kualitas lingkungan di Maros dan Pangkep,” katanya.

Sementara itu, Nur Asiah dari SP Anging Mammiri mengatakan, dari hasil survei lembaganya di wilayah yang krisis air bersih yakni di Kecamatan Tallo dan Ujung Tanah, disadari atau tidak, maka perempuan dan anaklah yang rentan bersentuhan langsung dengan persoalan air bersih ini.

“Mulai dari menyiapkan kebutuhan konsumsi dapur, cuci, mandi dan jadwal bulanan perempuan, sangat tergantung dengan air. Termasuk mengurus anak-anak mereka dalam masa pertumbuhan,” katanya sembari
mengimbuhkan, air sangat penting untuk perempuan dalam kebutuhan konsumsi domestik maupun kesehatan reproduksi.

Suriani Echal Panca

Check Also

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis beberapa daerah di Sulsel yang masuk dalam kategori rawan bencana longsor, Rabu 28 September 2016 / Arul ramadhan

Bupati himbau masyarakat waspada, Jeneponto bakal dilanda “banjir”

JENEPONTO – Bupati Jeneponto Iksan Iskandar menghimbau kepada seluruh warga Jeneponto tetap waspada, khususnya yang …