Senin , Januari 22 2018
Home / Budaya / Silariang: Menanti Regine Pulang
Ist
Ist

Silariang: Menanti Regine Pulang

Silariang: Menanti Regine Pulang
Oleh Effendy Wongso

 Prolog

Halo, nama saya Regine. Saya biasa dipanggil Egi, singkat dan kedengarannya enak di kuping. Saya lahir di dalam keluarga yang terbilang cukup segala-galanya. Dan pada mulanya keluarga kami utuh serta bahagia, namun Tuhan berkehendak lain saat Ia memanggil Mama lewat penyakit kanker yang dideritanya.

Beberapa saat setelah Mama meninggal, Papa memutuskan menikah dengan perempuan lain, serta memboyong putri tunggalnya, Mayangsari. Itulah ihwal lantaknya hubungan saya dengan Papa.

Pada saat itulah saya merasakan dunia ini tidak indah lagi. Dunia remaja yang penuh dengan bunga kini berubah menjadi neraka. Yang ada hanya pertengkaran dan pertengkaran. Saya tidak dapat menerima kehadiran ibu baru dan adik baru dalam keluarga kami. Bagi saya, ibu tiri adalah tiran dalam persepsi saya.

Namun benarkah demikian? Bahwa penderitaan itu selalu bermuasal dari orang lain?! Sungguh saya tidak tahu. Yang pasti, pertengkaran itu telah membuat kami begitu menderita. Saya, setelah lari dari keluarga kami, tinggal serumah dengan Tante Lin, adik almarhumah Mama di luar kota.

Namun sayang, pergaulan bebas membuat saya terpuruk dan hal itu menambah penderitaan saya. Ya, Allah! Saya memang telah bergelimang dosa. Lalu saya kembali ke rumah Papa setelah menyadari satu hal bahwa, cinta dan kasih sayang bukanlah semata diturunkan dari langit, namun ia diciptakan oleh hati yang putih dan murni.

Ya, hati yang putih dan murni!

***

Tentang Mayangsari

Tak ada yang pernah tahu bagaimana getir kenangan itu. Dibiarkannya air mata menitik setiap hal itu melintas mendadak dalam benaknya. Dan tetap berharap, Regine akan datang dengan kedua tangan terpentang, lari ke arahnya lantas memeluknya.

Namun buliran waktu yang berdetak melalui himpunan detik seolah enggan menyapa. Hari demi hari. Bulan demi bulan. Semuanya berlalu tanpa terasa. Sudah dua tahun. Gadis itu tidak pernah datang. Menyimpan api dendam yang entah sampai kapan dapat padam.

Gadis itu baru juga genap tujuh belas

Beban hukuman yang disanksikan Papa semestinya belum pantas dipikulnya.

Dia sama sekali tidak sadar apa yang telah dilakukannya. Kehilangan orang yang sangat disayanginya memang telah melimbungkannya dalam lara berkepanjangan. Dia pun belum dapat menerima kasih sayang dari orang lain. Terlebih-lebih menyaksikan sepotong kasih dari Papa telah terbagi. Bukan lagi semata-mata untuknya!

Dia lari dengan membawa segumpal dendam. Terpuruk ke dalam kekhilafan yang tidak dapat dimaafkan. Tidak ada tempat lagi baginya untuk berpijak di dalam keluarganya sendiri, meski dia terlahir dari darah dan daging lelaki separo baya panutannya itu.

Dua tahun gadis itu menghilang. Pusaran waktu seolah menelannya. Dan tidak pernah memunculkannya kembali menyusuri kehidupan baru yang selama ini menjadi impiannya.

Lalu, ketika dia datang….

Check Also

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis beberapa daerah di Sulsel yang masuk dalam kategori rawan bencana longsor, Rabu 28 September 2016 / Arul ramadhan

Bupati himbau masyarakat waspada, Jeneponto bakal dilanda “banjir”

JENEPONTO – Bupati Jeneponto Iksan Iskandar menghimbau kepada seluruh warga Jeneponto tetap waspada, khususnya yang …