Senin , Januari 22 2018
Home / Budaya / Tiga Istri Satu Kota
Ist
Ist

Tiga Istri Satu Kota

Tiga Istri Satu Kota
Oleh Gita Nuari

MAKASSARTERKINI.COM – Di bawah pohon kemboja, dengan sebatang rokok, di depannya, kuburan-kuburan yang bukan familinya, Jumari duduk bersandar di atas selembar koran. Biasanya yang menyapa cuma Pak Kimung, penjaga kuburannya itu dengan sapaan yang tak pernah berubah.

“Lagi cari solusi, Pak Jumari?” Demikian sapanya yang klise.

Apakah sedang merapikan rumput-rumput kuburan atau sedang lewat dengan sepeda pancalnya, Pak Kimung pasti akan menyapa dengan sapaan yang khas seperti itu.

Lelaki berumur lima puluh tahunan ini, selalu datang ke TPU itu sekadar mencari solusi bagi ketiga rumah tangganya. Ruwet atau tidak ruwet, jika akalnya sudah keteteran untuk membagi keadilan kepada istri-istrinya dan juga kepada anak-anaknya, Jumari akan melarikan dirinya ke situ, merokok, memandangi awan gemawan sore hari, membalas sapaan Pak Kimung, dan tentunya mencari solusi-solusi baru bagi rumah tangganya.

Dia sebisa mungkin adil. Walau tidak seratus persen, dia harus bisa membagi waktu dan perhatian-perhatian lainnya kepada ketiga istri dan empat anak-anaknya. Tetapi selama ini Jumari telah melakukannya dengan baik kepada ketiga istri-istrinya itu.

Dari istri pertama, Jumari dikaruniai dua anak, sedang dari istri kedua dan ketiga masing-masing satu anak. Tempat tinggal istri-istrinya berada di tiga wilayah Ibukota; Selatan, Timur dan Utara. Biar tidak jujur, yang penting adil. Semua meminta, semua harus dapat. Pun kepada keempat anaknya, jika yang satu minta tas baru, yang lainnya pasti dibelikan sepatu atau mainan.

Uang yang diberikannya pun seratus persen dari gaji. Tanpa embel-embel korupsi atau memanipulasi hasil tugas yang selama ini dia kerjakan. Gaji yang nyaris mencapai tiga jeti, kerja sebagai kepala bagian departemen pemasaran pada perusahaan yang bergerak di bidang interior bangunan.

Kendaraan yang dimiliki Jumari cuma sepeda motor. Namun dia bangga. Dengan sepeda motornya itu, dia bisa cepat menjambangi istri-istrinya dan juga anak-anaknya jika di antara mereka ada masalah. Jumari juga rajin ke masjid. Dia tidak pernah meninggalkan salat lima waktu.

Namun itu tadi, kebiasaan Jumari jika pikirannya lagi buntu, dia akan mendatangi TPU dan menghabiskan waktu sorenya di sana. Merokok, memandangi awan gemawan sore hari. Soal merokok, dia berpendapat, merokok di kompleks pekuburan tidak melanggar undang-undang yang belum lama ini diterapkan Pemerintah DKI. Karena merokok di pekuburan tak menggangu ketertiban umum. Orang-orang yang sudah mati tidak akan merasa terganggu kenyamanannya. Itu pendapat Jumari.

***

Check Also

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis beberapa daerah di Sulsel yang masuk dalam kategori rawan bencana longsor, Rabu 28 September 2016 / Arul ramadhan

Bupati himbau masyarakat waspada, Jeneponto bakal dilanda “banjir”

JENEPONTO – Bupati Jeneponto Iksan Iskandar menghimbau kepada seluruh warga Jeneponto tetap waspada, khususnya yang …